Sabtu, 26 Desember 2009
AIR YANG MANA !?
Lupa aku jika haus
Minuman mana yang dapat menyegarkan
Bahkan satu, dua, tiga janji
Sudah larut lebur di minumku
Kanda pergi dinda pergi
Mengalir jatuh tak mungkin ke atas
Batu besar jadi kecil pun
Tak mungkin pindah seperti daun
Airku keruh
Hampir tak punya sayap
Jatuh aku tak apa
Mati aku tak sanggup
Nafas tinggal seair
Tapi aku berjejak
Seharusnya kakiku ada sepuluh
Biar tegak aku berderap
Tapi Dewi berkata lain
Tega melihat dengan tiga mata
Satu mata pun tak berkedip
Menatapku semakin menggeliat
Panas dan dingin seling berganti
Selasa, 24 November 2009
“SATU TITIK GEMAS”
Kalo bebek pergi
Bebek pergi bawa goyang
Kalo rusa pergi
Rusa pergi bawa air di perut
Kalo surya pergi
Surya pergi bawa terang
Kalo satelit pergi
Satelit pergi bawa buram
Aneh,
Aku kok malah pergi bawa titik
Cuma satu titik
Aku genggam malah hilang
Aku pamer takut jatuh
Aduh, mama !
Sampai kapan titik ini tersimpan
Dalam genggam
Atau dalam susu
Aku makin gemas
Harus kutaruh mana
Atau kuremas dan kuperlihatkan
Agar bebek lewat tahu
Agar rusa lari terpana
Hingga satu titik gemas ini bersinar
Sabtu, 14 November 2009
SAKIT
Kertas hitam ini jadi merah
Ketika aku dan dia terguncang
Dan tak sanggup melihat lagi
Kini…
Kertas merah itu jadi putih
Ketika aku dan kamu sakit
Sakit jiwa berdarah yang suci
Tapi…,
Kertas putih itu jadi abu-abu
Ketika dia dan kamu takut
Takut diserang hati merah
Setelah itu,
Kertas abu-abu itu jadi hitam kembali
Ketika aku, dia, dan kamu
Habis di neraka !!!
Minggu, 08 November 2009
KRATON ABANG MEMBLE
Aku hitam
Tunggu kelam
Walau sudah malam
Aku belum bertemu putra malam
Kula manungsa
Rada rekasa
Manungsa liyane meksa
Supaya kula tresna basa
Tapi sekali lagi aku hitam
Bagai tembok gambarkan ketam
Hingga tercoreng sampai pitam
Aku makin geram
Raden Wengi nalika bale
Kula bungah tole-tole
Kula lunga ninggal tole
Ing kraton abang memble
Senin, 02 November 2009
Aku Bertemu lagi Dengan Puisiku…
Pu…
Puyuh hatiku
Terangsang ulu cinta
Ketika aku gerakan tangan ini
I…
Isyarat ini makin jelas
Aku gores demi gores
Hingga terukir huruf hingga kata
Si…
Sibuk aku berbenah
Hingga lupa kalau aku…
Aku harus teruskan dari kata hingga kalimat
Ku…
Kukuras habis tenaga
Hingga tercipta satu bait jiwa
Dan akhirnya aku bertemu lagi dengan puisiku
PUISIKU…
Senin, 19 Oktober 2009
“BIAR TUA”
Aku bergumam
Kemudian teriak hingga sore
Satu – satu terkuak benam
Kemudian tegak hingga tercoreng
Aku, dia, dan kau
Duduk tertawa hingga berair
Tak tahu malu dan ragu
Sampai lilin tertiup jadi abu
Aku dan dia
Saling senyum beri tanda
Saling gumam beri cinta
Aku dan kau
Tak tahu arti ini
Tak tahu perayaan ini
Sayangnya yang aku tahu
Aku ada biar tua
Rabu, 14 Oktober 2009
KAINKU TERSOBEK
14-02-1979
Aku terbenam
Walau kepak sayap masih dua
Dan kasih tak berjua
14-02-1982
Aku kelaparan
Tiap tahun tunggu coklat
Tapi malah dapat iri
14-02-1990
Aku tersobek
Kain pinkku jadi kulit
Dan badanku jadi dua
14-02-2000
Aku bukan istri
Bukan lagi manusia
Kenangan tanpa suami…
Jumat, 21 Agustus 2009
Merah Bosan
Langit jiwa
Tersenyum bikin bosan
Tersedak bikin tua
Tapi apakah aku harus memberi balasan !?
Mungkin tulisan ini cukup jelek
Bahkan laksamana angin ingin tebas tinta ini
Tapi aku bosan
Bosan yang bikin geram
Dan geram yang jadi merah
Satu lagi yang ingin pena ini tulis :
Seharusnya merah itu cukup gila
Satuan, puluhan, ribuan, ratusan, puluhan ribu
Bahkan ratusan ribu, jutaan, puluhan juta
Dan lagi ratusan juta
Orang lagi bosan hidup
Dan lebih bosan lagi lihat orang mati
Tapi aku !?
Aku sudah gila bosan
Dan hampir saja aku ludes…
Senin, 03 Agustus 2009
Tuan Pura – Pura
Tuanku si tuan pura-pura
Menyanyi meratap muka
Tapi segan terisak tangis
Tuanku si tuan pura-pura
Ingin pergi bawa jiwa
Ingin pulang bawa rindu
Tuanku si tuan pura-pura
Ia merasa melayang di langit
Tapi sulit meraih bintang
Tuanku si tuan pura-pura
Tersedak bagai air
Dan tinggal menunggu maut
Jumat, 31 Juli 2009
KAYAK KAYA
Rabu, 29 Juli 2009
MUKA RATA
Satu…
Lima…
Angka ini yang bilang aku ratu
Mulai punya lebah sampai lima
Satu…
Tujuh…
Angka itu yang membuat aku jadi batu
Aku serahkan jiwa dan tubuh
Satu…
Delapan…
Saat ini tubuhku tidak lagi satu
Bahkan istanaku jadi papan
Satu…
Sembilan…
Ya Tuhan, aku ingin mati
Tak kuat jadi si muka rata
Dua…
Kosong…
Aku benar-benar mati
Jumat, 17 Juli 2009
Mengapa Harus Cinta !?
Sotya Pawestri
Aku diam
Ketika Dewi Cinta tanya siam
Seakan air dan angin ikut bergumam
Bersama resah bahagia yang terpendam
Dewi Cinta itu bertanya lagi
Tapi aku tetap tidak mengerti
Mengapa rasanya seperti ragi ??
Atau memang hati dan uluku sudah mati
Sedetik setelah matahari terbenam
Aku sudah punya jawaban
Tapi…
Bagaimana cara mengatakannya ??
Dewi Cinta tersenyum sinis
Dan aku tersenyum manis
Aku, aku, dan aku
Mengapa harus aku ?
Aku bingung !!
Kenapa harus Dewi Cinta ?
Mengapa harus cinta ?
Kenapa Tuhan tidak kirimi aku Dewa Kekayaan saja ??
Rabu, 15 Juli 2009
TANGAN KOSONG
Sotya Pawestri
Langit itu putih
Ketika aku dan dia duduk bersama
Ketika semua tidur dan tak berdaya
Sekali lagi langit itu putih
Ketika surya seharusnya tersenyum
Ketika ia harus pergi
Ya, Tuhan…
Langit itu putih lagi
Ketika ia pulang
Ketika tangannya kosong
Dan langit itu putih lagi
Ketika aku harus pergi
Ketika aku bersama malaikat…
Sabtu, 04 Juli 2009
SEPI ataukah SUNYI
Hilang arah yang lurus
Kupandang sahutan tamu
Hanya ada keramaian semu
Aku lihat kiri
Segerombolan orang yang tak kukenal berdiri
Aneh, sejuta aneh
Kenapa tak kunikmati saja ??
Atau aku mulai sepi
Terdiamku terpaku
Meratap dunia dengan tangis
Mungkin tidak hari ini tapi besok
Ataukah sunyi
Atau…
Jiwa ini tidak akan pernah tenang selamanya
Kamis, 02 Juli 2009
KERTAK GIGI
Sotya Pawestri
Sinta mogok makan
Kira – kira sudah sepekan
Gara – gara atasan
‘Gak mau kasih tunjanganRudi marah
Uangnya dijarah
Katanya usaha pemerintah semakin parah
Bikin Rudi makin gerah
Raka tahan haus
Bau air dianggap hangus
Walau di depannya berdiri gadis bagus
Raka tetap tidak rakus
Sinta, Rudi, dan Raka
Menunggu nasib kayak kera
Tunggu janji belaka
Hingga tak bisa berak
Dasar nasib !!
Kapan dunia tak jadi aib ??
Sinta, Rudi, dan Raka tinggal tunggu raib
Selasa, 30 Juni 2009
JAKA MUDA & “PERAWAN TUA”
Jaka muda bawa kumis
Masuk rumah malam kamis
Jemput pesolek nan manis
Hanya sayang bau amisPerawan tua meringis
Merasa ia masih gadis
Padahal sudah tujuh pria bengis
Melihat punggungnya punya kudis
Jaka muda tertipu
Akhirnya matikan lampu
Merasa yang dicumbu kupu-kupu
Padahal semut saja tertawa garpu
Perawan tua menipu
Tak sanggup melawan nafsu rapuh
Tak ingat ayah bunda di Cepu
Tak mau meluputkan rasa tipu
Jaka muda tetap cinta
Dia hanya lihat dari mata
Sampai jiwanya patah
Jaka muda masih cinta…
Minggu, 28 Juni 2009
Perawan Mengasuh Tanah
Sotya Pawestri
Sepertinya aq mulai sinting
Ribut bukan diri sendiri
Malah dengan suami orang lain
Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku belok ke kanan
Tapi bebal belok ke kiri
Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Bukan Hati yang gerah
Tapi tangan yang memerah
Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah turut padanya
Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada hati yg bersimpuh
ia akhirnya menunggu
jejaka mana yg berhenti
Sabtu, 27 Juni 2009
HAMPIR TERAKHIR
Sotya Pawestri
Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan
Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan
Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin
Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir
Minggu, 21 Juni 2009
Aku, Dia dan Ray
Aku, dia dan Ray
Terjangkit penyakit turunan
Bukan wajah yang berkata
Hanya topeng yang tertawa
Aku, dia dan Ray
Tersangkut kicir berbentuk segitiga
Yang terukir di tiap putarnya
Pulang dan pergi berhenti
Aku, dia dan Ray
Tertawa melirik topeng
Seperti berkaca wajah diri
Seperti bermimpi akulah dia
Sayangnya kicir itu rusak
Si topeng hanya senyum
Risauan kembali menyisik
Kapan lagi akan menangis ?
Selamat tinggal Ray
Mungkin baru 100 tahun lagi
Air surga ‘kan membasuh
Rabu, 10 Juni 2009
“SATU TITIK GEMAS”
Sotya Pawestri
Kalo bebek pergi
Bebek pergi bawa goyang
Kalo rusa pergi
Rusa pergi bawa air di perut
Kalo surya pergi
Surya pergi bawa terang
Kalo satelit pergi
Satelit pergi bawa buram
Aneh,
Aku kok malah pergi bawa titik
Cuma satu titik
Aku genggam malah hilang
Aku pamer takut jatuh
Aduh, mama !
Sampai kapan titik ini tersimpan
Dalam genggam
Atau dalam susu
Aku makin gemas
Harus kutaruh mana
Atau kuremas dan kuperlihatkan
Agar bebek lewat tahu
Agar rusa lari terpana
Hingga satu titik gemas ini bersinar
Senin, 08 Juni 2009
Aku, Dia dan Ray
Aku, dia dan Ray
Terjangkit penyakit turunan
Bukan wajah yang berkata
Hanya topeng yang tertawa
Aku, dia dan Ray
Tersangkut kicir berbentuk segitiga
Yang terukir di tiap putarnya
Pulang dan pergi berhenti
Aku, dia dan Ray
Tertawa melirik topeng
Seperti berkaca wajah diri
Seperti bermimpi akulah dia
Sayangnya kicir itu rusak
Si topeng hanya senyum
Risauan kembali menyisik
Kapan lagi akan menangis ?
Selamat tinggal Ray
Mungkin baru 100 tahun lagi
Air surga ‘kan membasuh
Minggu, 07 Juni 2009
5 Kuda Jantan 1 Merpati Betina
Sotya Pawestri
Si kuda bilang :
“Mari merpati. Ikut kami.
Kami punya merpati jantan di sarang.”
Jawab merpati :
“Benarkah Tuan ? Hamba rindu berkasih-kasih.”
Si kuda tanya :
“Apakah daku berbohong ?
Ambo bukan penipu.
Mari merpati. Mari !”
Merpati semarak :
“Kuda jantan rambutmu indah.
Kalau begitu kau harus beri aku sayang.”
Si kuda hanya diam
Mereka takut kena cinta
Kalau boleh jujur
Kuda taruh sayang pada merpati
Merpati diam
Tak mau ingkar janji
Sayang,
5 kuda jantan tak berkutik
Sampai jalan merah
Sampai kaki lemah
5 kuda jantan menyimpan
Tak mau terbongkar
Apa daya merpati betina
Hanya ingin cari suami
Jika benar ada merpati jantan
Ia harus pergi seberangi laut
Si kuda malu
Tak mungkin bersatu
Merpati begitu ayu
Si kuda hanya bisa merayu
Kami dan dia beda
Sudah lupakan saja
Kami rela lihat dia seberangi laut
Walau bukan dengan kami
Sabtu, 09 Mei 2009
aku di dan ray
Sotya Pawestri
Aku, dia dan Ray
Terjangkit penyakit turunan
Bukan wajah yang berkata
Hanya topeng yang tertawa
Aku, dia dan Ray
Tersangkut kicir berbentuk segitiga
Yang terukir di tiap putarnya
Pulang dan pergi berhenti
Aku, dia dan Ray
Tertawa melirik topeng
Seperti berkaca wajah diri
Seperti bermimpi akulah dia
Sayangnya kicir itu rusak
Si topeng hanya senyum
Risauan kembali menyisik
Kapan lagi akan menangis ?
Selamat tinggal Ray
Mungkin baru 100 tahun lagi
Air surga ‘kan membasuh
Kamis, 30 April 2009
MAIN KARTU
Angela Sotya Pawestri
Aku buang sembilan wajik
Berarti teman datang pukul sembilan
Dia ambil dua hati
Ah… sulit diartikan
Kau buang empat hati
Teman datang malah celaka
Satu kriting berarti kartu as
Masakan tidak cocok
Tapi ada pendatang
Wajik itu sayang
Dengan raja !?
Masakan sifatnya pendiam
Tiga waru keluar !!
Sebentar lagi ada yang sedih
Katanya si kartu
Ada cewek butuh sahabat
Joker keluar terakhir
Berarti seorang penghibur
Datang bawa cahaya
Siapa, ya ??
Selasa, 28 April 2009
DENGAR SERUAN Birthday…
Sebenarnya,
Aku tak indah dibanding kupu
Aku tak lugu dibanding kura
Malah lebih exotic sindirnya
Sinar wajah cukup kuat
Solek aku tak butuh
Tapi untuk hari ini saja
Aku ingin genit
Tak ada kue tiup lilin
Adanya kertas koran sagu basi
Bukannya Ge-er !
Tapi emang bener
Sahabat lebih penting
Kali ini aku diam
Lihat peti di birthdayku
Tapi lebih naas
Lihat sahabat tinggal mayat
Kenapa harus hari ini !?
Kerangka hati hampir roboh
Jumat, 17 April 2009
VALENTINE BANGSAT !!
Angela S. P.
Katanya, sih !
Cewek lacur tak boleh nikmat cinta
Bau trasi, umpatnya
Masakan tak boleh ?Nasib, nasib !
Malam romantis gini cari om
Pake jual diri lagi
‘Kan malu !
Dua pasang kasih
Merambat tangan di sudut taman
Masakan aku tak boleh ikut jiwa ?
Dasar valentine bangsat !
Kue cinta, bunga asmara
Coklat nikmat, balon merah
Musik klasik, dansa malam
Anggur jiwa, cowok tampan
Aku beda…
Kue lapis, bunga palsu
Coklat gedongan, balon hitam
Musik setan, dansa rok mini
Anggur jalanan, om tua
Valentine bangsat !!
Rabu, 15 April 2009
PARA BINI
Angela S. P.
Bisik-bisik para bini
Sisik-sisik makin menjadi
Katanya mau beli tempe
Malah ngrumpi tengah pasar
Dasar bini !
Dengkul abang sudah bundas
Buat jalan keliling toko
Masakan sepanjang jalan cuma lihat
Banyak tawar tak beli-beli
Dasar abang malang !
Dompet kanda sudah terbang
Dibawa bini pergi ke salon
Tiap minggu creambath sari alpukat
Maunya biar keren ala barat
Malah bonyok nggak karuan
Dasar bini !
Suruh siapa jadi bintang ?
Para bini ! Para bini !
Ribut amat ngomongin nggak bisa bungkam sedikit ?
Aduh, sayang…
Kepala daku hampir pecah
Dikau tak urus anak-suami
Senin, 13 April 2009
ANGKATAN 2000
Tahun 1999
Guncang !!
Jauh beda dengan jalan beraspal
Angin yang lewat untung cuma bisik
Tapi, ups…!!
Sekali lagi guncang…
Genap 2000 tahun bumi digentar
Hendak roboh bersilang geram
Yang katanya koruptorlah,
Nepotismelah !!
Cuman katanya…
Apalagi tahun 2001
Lagi gencar-gencarnya milenia
Kayak tahun 2000
Yang cuma bisa makan orang
Kaya semakin kaya
Miskin makin miskin
Kok aneh !?
Mau dilanjutkan ?
Silakan !
Asal saja jangan bawa nama mama Saat tak punya uang di kantong
Lanjutkan saja !
Kalau mau semuanya mati
Beres ‘kan ?
Selasa, 07 April 2009
TANGKAI JIWA
Angela S. P.
Saat akarku mulai tumbuh
Aku menjalar
Menjalar jauh di bawah tanah
Coba cari mineral iman
Dan tanam tetap di dasar hati
Aku tumbuh…
Tunasku mulai naik
Seperti tumbuhan lain layaknya
Aku ingin bersahabat dengan Bu Mentari
Layaknya pula aku butuh siraman sejuk
Aku semakin tumbuh…
Tangkaiku bercabang semakin makmur
Tangkaiku kokoh dengan batang
Dan akarnya
Hanya saja, butuh waktu
Di ujung-ujung tangkai itu
Tersimpan daun yang seharusnya lebat
Seharusnya bersimpuh dengan buah
Tapi, kenapa lama ?
Apakah tangkai jiwaku kurang subur
Atau hanya saja butuh waktu ?
Aku tak tahu serunya
Masakan aku tak boleh niknat buahnya
Atau aku memang pohon tak berguna ?
Atau pula hanya rumput liar semata ?
Katanya,
Tuhan bakalan bantu hamba
Tapi kapan ?
Apakah sampai daunku layu
Dan rontok semua ?
O, sayangku Tuhan !!
Peluk aku, Tuhan…!!
Jangan sampai aku ditebang
Jangan sampai aku dibakar
Aku takut
Kamis, 02 April 2009
ZAMBRA SI ELANG BELIA
Angela S. P.
Akulah Zambra si elang belia
Menatap langit sejurus sinar
Dan berkicau sebatas binar
Hey, akulah Zambra si elang belia
Lihat sayapku !
Indah, bukan ?
Akan kukepak sayapku selebar jangka
Akan kuarungi segala hutan
Segala samudera, gunung
Dan langit ketujuh
Akulah Zambra si elang belia
Siapa yang tak kenal Zambra Lela ?
Siapa yang tak tertegun lihat buluku ?
Pekat dan lebat di setiap sudutnya
Elang jantan mana yang tak terkait ?
Akulah Zambra si elang betina
Aku suka busung dada
Aku suka semua jantan tunduk
Nikmat benar jadi elang
Terbang kesana-kemari
Tapi satu ketika
Aku terbang selimuti hutan
Dan seorang pria pergi bawa senjata
Dengan derap sepatunya
Aku…..
A…..a…..a….. !!!
Panas ! Panas !!
Aku tertembak
Dasar jejaka biadab !!
Bangsat !!
Tidak cukupkah ayam mengisi perutmu ?
Tidak cukupkah ikan menggulung ususmu ?
Tapi,tapi
Lama-kelamaan aku semakin pusing berkunang
Lama-kelamaan aku semakin sesak
Dan lama-kelamaan jiwaku ini ingin pisah dengan tubuhnya
Aku semakin jatuh, jatuh dan jatuh
Dalam ambang nasibku
Aku semakin merintih :
“Ibu, ibu….. tubuhku sakit,
Sayapku terkulai patah,
Aku tak bisa terbang tinggi lagi
Ibu….., aku kedinginan…”
Dan akhirnya aku mati…..
Kamis, 26 Maret 2009
Selasa, 24 Maret 2009
JEJAKA BERSERAGAM PUTIH
Angela S. P.
Satu ketika biolaku tergesek
Di setiap senar yang tergesek teraut jiwa
Satu senar, dua senar, tiga senar
Sampai semua senar-senar bergesek
Satu mata kupandang
Jauh terpandang
Jejaka berseragam putih buaian
Satu lantun, dua lantun
Ia berderap menuju pandu laut
Menatap luas tak tersirap
Dan menuju air tiap gelombang
Kelak ‘kan kupandang lagi
Jejaka berseragam putih buaian
Satu, dua, tiga buaian lagi ‘kan jelang
Satu mentari dan tujuh bintang terkelip
Bertemu dalam belaian sulam
Dan tergegap melihat merpati
Satu lagi aku terpukau
Oleh jejaka berseragam putih
Bolehkah gelandangan ini memandang jua ?
Bolehkah gadis belia ini memikat ?
Hanya saja tuan
Dengarkan daku menggesek biola ini
Kamis, 19 Maret 2009
JERITAN SEORANG PENGAMAT HIDUP
Baiklah, akan kuberi tahu siapa diriku
Aku bukan sembarang sampah basah
Di atas tanah
Dan aku bukan seonggok sayur penghias taman
Tapi aku sehelai daun di pinggir jalan
Bukan penghias maupun sampah
Tapi sehelai daun…
Jangankan sepasang mata
Sebelah mata saja tak berpandang
Bukannya diasuh
Malah diinjak dengan sepatu bermerk
Oh nasib…, nasib !
Siapa bilang hidupku enak ?
Ayahku seorang ayah yang hebat
Seorang Jendral Pembuat Padi
Pagi pergi bawa caping
Sore pulang bawa keringat
Emang enak makan ubi melulu ?
Mau tahu siapa ibuku ?
Bukan model ataupun pesolek
Ia seorang wanita karir
Menumbuk padi pekerjaannya
Hebat bukan !?
Kalau kamu mendengar ceritaku
Janganlah bersaut duka
Atau pun bergulung tangis
Karena aku…
Bukan sampah
Aku sehelai daun…
Terbang demi angin
Berjejakan demi hidup
Dan bernyanyi demi Indonesia
“Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akankah kau sawahku
Mendengarku tersedu
Dari yakinku penuh
Untuk-mu oh Indonesia…”

