Selasa, 30 Juni 2009
JAKA MUDA & “PERAWAN TUA”
Jaka muda bawa kumis
Masuk rumah malam kamis
Jemput pesolek nan manis
Hanya sayang bau amisPerawan tua meringis
Merasa ia masih gadis
Padahal sudah tujuh pria bengis
Melihat punggungnya punya kudis
Jaka muda tertipu
Akhirnya matikan lampu
Merasa yang dicumbu kupu-kupu
Padahal semut saja tertawa garpu
Perawan tua menipu
Tak sanggup melawan nafsu rapuh
Tak ingat ayah bunda di Cepu
Tak mau meluputkan rasa tipu
Jaka muda tetap cinta
Dia hanya lihat dari mata
Sampai jiwanya patah
Jaka muda masih cinta…
Minggu, 28 Juni 2009
Perawan Mengasuh Tanah
Sotya Pawestri
Sepertinya aq mulai sinting
Ribut bukan diri sendiri
Malah dengan suami orang lain
Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku belok ke kanan
Tapi bebal belok ke kiri
Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Bukan Hati yang gerah
Tapi tangan yang memerah
Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah turut padanya
Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada hati yg bersimpuh
ia akhirnya menunggu
jejaka mana yg berhenti
Sabtu, 27 Juni 2009
HAMPIR TERAKHIR
Sotya Pawestri
Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan
Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan
Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin
Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir
Minggu, 21 Juni 2009
Aku, Dia dan Ray
Aku, dia dan Ray
Terjangkit penyakit turunan
Bukan wajah yang berkata
Hanya topeng yang tertawa
Aku, dia dan Ray
Tersangkut kicir berbentuk segitiga
Yang terukir di tiap putarnya
Pulang dan pergi berhenti
Aku, dia dan Ray
Tertawa melirik topeng
Seperti berkaca wajah diri
Seperti bermimpi akulah dia
Sayangnya kicir itu rusak
Si topeng hanya senyum
Risauan kembali menyisik
Kapan lagi akan menangis ?
Selamat tinggal Ray
Mungkin baru 100 tahun lagi
Air surga ‘kan membasuh
Rabu, 10 Juni 2009
“SATU TITIK GEMAS”
Sotya Pawestri
Kalo bebek pergi
Bebek pergi bawa goyang
Kalo rusa pergi
Rusa pergi bawa air di perut
Kalo surya pergi
Surya pergi bawa terang
Kalo satelit pergi
Satelit pergi bawa buram
Aneh,
Aku kok malah pergi bawa titik
Cuma satu titik
Aku genggam malah hilang
Aku pamer takut jatuh
Aduh, mama !
Sampai kapan titik ini tersimpan
Dalam genggam
Atau dalam susu
Aku makin gemas
Harus kutaruh mana
Atau kuremas dan kuperlihatkan
Agar bebek lewat tahu
Agar rusa lari terpana
Hingga satu titik gemas ini bersinar
Senin, 08 Juni 2009
Aku, Dia dan Ray
Aku, dia dan Ray
Terjangkit penyakit turunan
Bukan wajah yang berkata
Hanya topeng yang tertawa
Aku, dia dan Ray
Tersangkut kicir berbentuk segitiga
Yang terukir di tiap putarnya
Pulang dan pergi berhenti
Aku, dia dan Ray
Tertawa melirik topeng
Seperti berkaca wajah diri
Seperti bermimpi akulah dia
Sayangnya kicir itu rusak
Si topeng hanya senyum
Risauan kembali menyisik
Kapan lagi akan menangis ?
Selamat tinggal Ray
Mungkin baru 100 tahun lagi
Air surga ‘kan membasuh
Minggu, 07 Juni 2009
5 Kuda Jantan 1 Merpati Betina
Sotya Pawestri
Si kuda bilang :
“Mari merpati. Ikut kami.
Kami punya merpati jantan di sarang.”
Jawab merpati :
“Benarkah Tuan ? Hamba rindu berkasih-kasih.”
Si kuda tanya :
“Apakah daku berbohong ?
Ambo bukan penipu.
Mari merpati. Mari !”
Merpati semarak :
“Kuda jantan rambutmu indah.
Kalau begitu kau harus beri aku sayang.”
Si kuda hanya diam
Mereka takut kena cinta
Kalau boleh jujur
Kuda taruh sayang pada merpati
Merpati diam
Tak mau ingkar janji
Sayang,
5 kuda jantan tak berkutik
Sampai jalan merah
Sampai kaki lemah
5 kuda jantan menyimpan
Tak mau terbongkar
Apa daya merpati betina
Hanya ingin cari suami
Jika benar ada merpati jantan
Ia harus pergi seberangi laut
Si kuda malu
Tak mungkin bersatu
Merpati begitu ayu
Si kuda hanya bisa merayu
Kami dan dia beda
Sudah lupakan saja
Kami rela lihat dia seberangi laut
Walau bukan dengan kami
