Kamis, 19 Maret 2009

JERITAN SEORANG PENGAMAT HIDUP


Baiklah, akan kuberi tahu siapa diriku

Aku bukan sembarang sampah basah

Di atas tanah

Dan aku bukan seonggok sayur penghias taman

Tapi aku sehelai daun di pinggir jalan

Bukan penghias maupun sampah

Tapi sehelai daun…

Jangankan sepasang mata

Sebelah mata saja tak berpandang

Bukannya diasuh

Malah diinjak dengan sepatu bermerk

Oh nasib…, nasib !

Siapa bilang hidupku enak ?

Ayahku seorang ayah yang hebat

Seorang Jendral Pembuat Padi

Pagi pergi bawa caping

Sore pulang bawa keringat

Emang enak makan ubi melulu ?

Mau tahu siapa ibuku ?

Bukan model ataupun pesolek

Ia seorang wanita karir

Menumbuk padi pekerjaannya

Hebat bukan !?

Kalau kamu mendengar ceritaku

Janganlah bersaut duka

Atau pun bergulung tangis

Karena aku…

Bukan sampah

Aku sehelai daun…

Terbang demi angin

Berjejakan demi hidup

Dan bernyanyi demi Indonesia

“Dari yakinku teguh

Hati ikhlasku penuh

Akankah kau sawahku

Mendengarku tersedu

Dari yakinku penuh

Untuk-mu oh Indonesia…”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar