Jumat, 29 Januari 2010

JAKA MUDA & “PERAWAN TUA”

A. Sotya Pawestri

Jaka muda bawa kumis
Masuk rumah malam kamis
Jemput pesolek nan manis
Hanya sayang bau amis

Perawan tua meringis
Merasa ia masih gadis
Padahal sudah tujuh pria bengis
Melihat punggungnya punya kudis

Jaka muda tertipu
Akhirnya matikan lampu
Merasa yang dicumbu kupu-kupu
Padahal semut saja tertawa garpu

Perawan tua menipu
Tak sanggup melawan nafsu rapuh
Tak ingat ayah bunda di Cepu
Tak mau meluputkan rasa tipu

Jaka muda tetap cinta
Dia hanya lihat dari mata
Sampai jiwanya patah
Jaka muda masih cinta…

Rabu, 20 Januari 2010

PERAWAN MENGASUH TANAH

A. Sotya Pawestri

Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang

Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri

Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah

Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya

Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh

Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti

Senin, 18 Januari 2010

HAMPIR TERAKHIR

A. Sotya Pawestri

Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan

Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan

Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin

Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir