A. Sotya Pawestri
14-02-1979
Aku terbenam
Walau kepak sayap masih dua
Dan kasih tak berjua
14-02-1982
Aku kelaparan
Tiap tahun tunggu coklat
Tapi malah dapat iri
14-02-1990
Aku tersobek
Kain pinkku jadi kulit
Dan badanku jadi dua
14-02-2000
Aku bukan istri
Bukan lagi manusia
Kenangan tanpa suami…
Selasa, 25 Mei 2010
Selasa, 27 April 2010
Merah Bosan
A. Sotya Pawestri
Langit jiwa
Tersenyum bikin bosan
Tersedak bikin tua
Tapi apakah aku harus memberi balasan !?
Mungkin tulisan ini cukup jelek
Bahkan laksamana angin ingin tebas tinta ini
Tapi aku bosan
Bosan yang bikin geram
Dan geram yang jadi merah
Satu lagi yang ingin pena ini tulis :
Seharusnya merah itu cukup gila
Satuan, puluhan, ribuan, ratusan, puluhan ribu
Bahkan ratusan ribu, jutaan, puluhan juta
Dan lagi ratusan juta
Orang lagi bosan hidup
Dan lebih bosan lagi lihat orang mati
Tapi aku !?
Aku sudah gila bosan
Dan hampir saja aku ludes…
Langit jiwa
Tersenyum bikin bosan
Tersedak bikin tua
Tapi apakah aku harus memberi balasan !?
Mungkin tulisan ini cukup jelek
Bahkan laksamana angin ingin tebas tinta ini
Tapi aku bosan
Bosan yang bikin geram
Dan geram yang jadi merah
Satu lagi yang ingin pena ini tulis :
Seharusnya merah itu cukup gila
Satuan, puluhan, ribuan, ratusan, puluhan ribu
Bahkan ratusan ribu, jutaan, puluhan juta
Dan lagi ratusan juta
Orang lagi bosan hidup
Dan lebih bosan lagi lihat orang mati
Tapi aku !?
Aku sudah gila bosan
Dan hampir saja aku ludes…
Selasa, 20 April 2010
Tuan Pura – Pura
A. Sotya Pawestri
Tuanku si tuan pura-pura
Menyanyi meratap muka
Tapi segan terisak tangis
Tuanku si tuan pura-pura
Ingin pergi bawa jiwa
Ingin pulang bawa rindu
Tuanku si tuan pura-pura
Ia merasa melayang di langit
Tapi sulit meraih bintang
Tuanku si tuan pura-pura
Tersedak bagai air
Dan tinggal menunggu maut
Tuanku si tuan pura-pura
Menyanyi meratap muka
Tapi segan terisak tangis
Tuanku si tuan pura-pura
Ingin pergi bawa jiwa
Ingin pulang bawa rindu
Tuanku si tuan pura-pura
Ia merasa melayang di langit
Tapi sulit meraih bintang
Tuanku si tuan pura-pura
Tersedak bagai air
Dan tinggal menunggu maut
Sabtu, 27 Maret 2010
KAYAK KAYA
A. sotya pawestri
Martin pulang
Martina pergi
Martin cinta
Martina benci
Martin pura-pura
Martina serius
Martin kaya
Martina miskin
Martin makan uang
Martina muntah uang
Martin mati
Martina masih hidup
Martin pulang
Martina pergi
Martin cinta
Martina benci
Martin pura-pura
Martina serius
Martin kaya
Martina miskin
Martin makan uang
Martina muntah uang
Martin mati
Martina masih hidup
Jumat, 26 Maret 2010
MUKA RATA
A. Sotya Pawestri
Satu…
Lima…
Angka ini yang bilang aku ratu
Mulai punya lebah sampai lima
Satu…
Tujuh…
Angka itu yang membuat aku jadi batu
Aku serahkan jiwa dan tubuh
Satu…
Delapan…
Saat ini tubuhku tidak lagi satu
Bahkan istanaku jadi papan
Satu…
Sembilan…
Ya Tuhan, aku ingin mati
Tak kuat jadi si muka rata
Dua…
Kosong…
Aku benar-benar mati
Satu…
Lima…
Angka ini yang bilang aku ratu
Mulai punya lebah sampai lima
Satu…
Tujuh…
Angka itu yang membuat aku jadi batu
Aku serahkan jiwa dan tubuh
Satu…
Delapan…
Saat ini tubuhku tidak lagi satu
Bahkan istanaku jadi papan
Satu…
Sembilan…
Ya Tuhan, aku ingin mati
Tak kuat jadi si muka rata
Dua…
Kosong…
Aku benar-benar mati
Sabtu, 20 Februari 2010
Mengapa Harus Cinta !?
A. Sotya Pawestri
Aku diam
Ketika Dewi Cinta tanya siam
Seakan air dan angin ikut bergumam
Bersama resah bahagia yang terpendam
Dewi Cinta itu bertanya lagi
Tapi aku tetap tidak mengerti
Mengapa rasanya seperti ragi ??
Atau memang hati dan uluku sudah mati
Sedetik setelah matahari terbenam
Aku sudah punya jawaban
Tapi…
Bagaimana cara mengatakannya ??
Dewi Cinta tersenyum sinis
Dan aku tersenyum manis
Aku, aku, dan aku
Mengapa harus aku ?
Aku bingung !!
Kenapa harus Dewi Cinta ?
Mengapa harus cinta ?
Kenapa Tuhan tidak kirimi aku Dewa Kekayaan saja ??
Aku diam
Ketika Dewi Cinta tanya siam
Seakan air dan angin ikut bergumam
Bersama resah bahagia yang terpendam
Dewi Cinta itu bertanya lagi
Tapi aku tetap tidak mengerti
Mengapa rasanya seperti ragi ??
Atau memang hati dan uluku sudah mati
Sedetik setelah matahari terbenam
Aku sudah punya jawaban
Tapi…
Bagaimana cara mengatakannya ??
Dewi Cinta tersenyum sinis
Dan aku tersenyum manis
Aku, aku, dan aku
Mengapa harus aku ?
Aku bingung !!
Kenapa harus Dewi Cinta ?
Mengapa harus cinta ?
Kenapa Tuhan tidak kirimi aku Dewa Kekayaan saja ??
Kamis, 18 Februari 2010
TANGAN KOSONG
A. Sotya Pawestri
Langit itu putih
Ketika aku dan dia duduk bersama
Ketika semua tidur dan tak berdaya
Sekali lagi langit itu putih
Ketika surya seharusnya tersenyum
Ketika ia harus pergi
Ya, Tuhan…
Langit itu putih lagi
Ketika ia pulang
Ketika tangannya kosong
Dan langit itu putih lagi
Ketika aku harus pergi
Ketika aku bersama malaikat…
Langit itu putih
Ketika aku dan dia duduk bersama
Ketika semua tidur dan tak berdaya
Sekali lagi langit itu putih
Ketika surya seharusnya tersenyum
Ketika ia harus pergi
Ya, Tuhan…
Langit itu putih lagi
Ketika ia pulang
Ketika tangannya kosong
Dan langit itu putih lagi
Ketika aku harus pergi
Ketika aku bersama malaikat…
Sabtu, 13 Februari 2010
SEPI ataukah SUNYI
A. Sotya Pawestri
Jauh kupandang sejurus
Hilang arah yang lurus
Kupandang sahutan tamu
Hanya ada keramaian semu
Aku lihat kiri
Segerombolan orang yang tak kukenal berdiri
Aneh, sejuta aneh
Kenapa tak kunikmati saja ??
Atau aku mulai sepi
Terdiamku terpaku
Meratap dunia dengan tangis
Mungkin tidak hari ini tapi besok
Ataukah sunyi
Atau…
Jiwa ini tidak akan pernah tenang selamanya
Jauh kupandang sejurus
Hilang arah yang lurus
Kupandang sahutan tamu
Hanya ada keramaian semu
Aku lihat kiri
Segerombolan orang yang tak kukenal berdiri
Aneh, sejuta aneh
Kenapa tak kunikmati saja ??
Atau aku mulai sepi
Terdiamku terpaku
Meratap dunia dengan tangis
Mungkin tidak hari ini tapi besok
Ataukah sunyi
Atau…
Jiwa ini tidak akan pernah tenang selamanya
Senin, 08 Februari 2010
KERTAK GIGI
A. Sotya Pawestri
Sinta mogok makan
Kira – kira sudah sepekan
Gara – gara atasan
‘Gak mau kasih tunjangan
Rudi marah
Uangnya dijarah
Katanya usaha pemerintah semakin parah
Bikin Rudi makin gerah
Raka tahan haus
Bau air dianggap hangus
Walau di depannya berdiri gadis bagus
Raka tetap tidak rakus
Sinta, Rudi, dan Raka
Menunggu nasib kayak kera
Tunggu janji belaka
Hingga tak bisa berak
Dasar nasib !!
Kapan dunia tak jadi aib ??
Sinta, Rudi, dan Raka tinggal tunggu raib
Sinta mogok makan
Kira – kira sudah sepekan
Gara – gara atasan
‘Gak mau kasih tunjangan
Rudi marah
Uangnya dijarah
Katanya usaha pemerintah semakin parah
Bikin Rudi makin gerah
Raka tahan haus
Bau air dianggap hangus
Walau di depannya berdiri gadis bagus
Raka tetap tidak rakus
Sinta, Rudi, dan Raka
Menunggu nasib kayak kera
Tunggu janji belaka
Hingga tak bisa berak
Dasar nasib !!
Kapan dunia tak jadi aib ??
Sinta, Rudi, dan Raka tinggal tunggu raib
Jumat, 29 Januari 2010
JAKA MUDA & “PERAWAN TUA”
A. Sotya Pawestri
Jaka muda bawa kumis
Masuk rumah malam kamis
Jemput pesolek nan manis
Hanya sayang bau amis
Perawan tua meringis
Merasa ia masih gadis
Padahal sudah tujuh pria bengis
Melihat punggungnya punya kudis
Jaka muda tertipu
Akhirnya matikan lampu
Merasa yang dicumbu kupu-kupu
Padahal semut saja tertawa garpu
Perawan tua menipu
Tak sanggup melawan nafsu rapuh
Tak ingat ayah bunda di Cepu
Tak mau meluputkan rasa tipu
Jaka muda tetap cinta
Dia hanya lihat dari mata
Sampai jiwanya patah
Jaka muda masih cinta…
Jaka muda bawa kumis
Masuk rumah malam kamis
Jemput pesolek nan manis
Hanya sayang bau amis
Perawan tua meringis
Merasa ia masih gadis
Padahal sudah tujuh pria bengis
Melihat punggungnya punya kudis
Jaka muda tertipu
Akhirnya matikan lampu
Merasa yang dicumbu kupu-kupu
Padahal semut saja tertawa garpu
Perawan tua menipu
Tak sanggup melawan nafsu rapuh
Tak ingat ayah bunda di Cepu
Tak mau meluputkan rasa tipu
Jaka muda tetap cinta
Dia hanya lihat dari mata
Sampai jiwanya patah
Jaka muda masih cinta…
Rabu, 20 Januari 2010
PERAWAN MENGASUH TANAH
A. Sotya Pawestri
Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang
Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri
Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah
Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya
Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh
Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti
Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang
Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri
Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah
Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya
Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh
Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti
Senin, 18 Januari 2010
HAMPIR TERAKHIR
A. Sotya Pawestri
Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan
Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan
Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin
Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir
Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan
Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan
Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin
Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir
Sabtu, 26 Desember 2009
AIR YANG MANA !?
A. Sotya Pawestri
Lupa aku jika haus
Minuman mana yang dapat menyegarkan
Bahkan satu, dua, tiga janji
Sudah larut lebur di minumku
Kanda pergi dinda pergi
Mengalir jatuh tak mungkin ke atas
Batu besar jadi kecil pun
Tak mungkin pindah seperti daun
Airku keruh
Hampir tak punya sayap
Jatuh aku tak apa
Mati aku tak sanggup
Nafas tinggal seair
Tapi aku berjejak
Seharusnya kakiku ada sepuluh
Biar tegak aku berderap
Tapi Dewi berkata lain
Tega melihat dengan tiga mata
Satu mata pun tak berkedip
Menatapku semakin menggeliat
Panas dan dingin seling berganti
Lupa aku jika haus
Minuman mana yang dapat menyegarkan
Bahkan satu, dua, tiga janji
Sudah larut lebur di minumku
Kanda pergi dinda pergi
Mengalir jatuh tak mungkin ke atas
Batu besar jadi kecil pun
Tak mungkin pindah seperti daun
Airku keruh
Hampir tak punya sayap
Jatuh aku tak apa
Mati aku tak sanggup
Nafas tinggal seair
Tapi aku berjejak
Seharusnya kakiku ada sepuluh
Biar tegak aku berderap
Tapi Dewi berkata lain
Tega melihat dengan tiga mata
Satu mata pun tak berkedip
Menatapku semakin menggeliat
Panas dan dingin seling berganti
Selasa, 24 November 2009
“SATU TITIK GEMAS”
Sotya Pawestri
Kalo bebek pergi
Bebek pergi bawa goyang
Kalo rusa pergi
Rusa pergi bawa air di perut
Kalo surya pergi
Surya pergi bawa terang
Kalo satelit pergi
Satelit pergi bawa buram
Aneh,
Aku kok malah pergi bawa titik
Cuma satu titik
Aku genggam malah hilang
Aku pamer takut jatuh
Aduh, mama !
Sampai kapan titik ini tersimpan
Dalam genggam
Atau dalam susu
Aku makin gemas
Harus kutaruh mana
Atau kuremas dan kuperlihatkan
Agar bebek lewat tahu
Agar rusa lari terpana
Hingga satu titik gemas ini bersinar
Kalo bebek pergi
Bebek pergi bawa goyang
Kalo rusa pergi
Rusa pergi bawa air di perut
Kalo surya pergi
Surya pergi bawa terang
Kalo satelit pergi
Satelit pergi bawa buram
Aneh,
Aku kok malah pergi bawa titik
Cuma satu titik
Aku genggam malah hilang
Aku pamer takut jatuh
Aduh, mama !
Sampai kapan titik ini tersimpan
Dalam genggam
Atau dalam susu
Aku makin gemas
Harus kutaruh mana
Atau kuremas dan kuperlihatkan
Agar bebek lewat tahu
Agar rusa lari terpana
Hingga satu titik gemas ini bersinar
Sabtu, 14 November 2009
SAKIT
Angela Sotya Pawestri
Kertas hitam ini jadi merah
Ketika aku dan dia terguncang
Dan tak sanggup melihat lagi
Kini…
Kertas merah itu jadi putih
Ketika aku dan kamu sakit
Sakit jiwa berdarah yang suci
Tapi…,
Kertas putih itu jadi abu-abu
Ketika dia dan kamu takut
Takut diserang hati merah
Setelah itu,
Kertas abu-abu itu jadi hitam kembali
Ketika aku, dia, dan kamu
Habis di neraka !!!
Kertas hitam ini jadi merah
Ketika aku dan dia terguncang
Dan tak sanggup melihat lagi
Kini…
Kertas merah itu jadi putih
Ketika aku dan kamu sakit
Sakit jiwa berdarah yang suci
Tapi…,
Kertas putih itu jadi abu-abu
Ketika dia dan kamu takut
Takut diserang hati merah
Setelah itu,
Kertas abu-abu itu jadi hitam kembali
Ketika aku, dia, dan kamu
Habis di neraka !!!
Minggu, 08 November 2009
KRATON ABANG MEMBLE
Sotya Pawestri
Aku hitam
Tunggu kelam
Walau sudah malam
Aku belum bertemu putra malam
Kula manungsa
Rada rekasa
Manungsa liyane meksa
Supaya kula tresna basa
Tapi sekali lagi aku hitam
Bagai tembok gambarkan ketam
Hingga tercoreng sampai pitam
Aku makin geram
Raden Wengi nalika bale
Kula bungah tole-tole
Kula lunga ninggal tole
Ing kraton abang memble
Aku hitam
Tunggu kelam
Walau sudah malam
Aku belum bertemu putra malam
Kula manungsa
Rada rekasa
Manungsa liyane meksa
Supaya kula tresna basa
Tapi sekali lagi aku hitam
Bagai tembok gambarkan ketam
Hingga tercoreng sampai pitam
Aku makin geram
Raden Wengi nalika bale
Kula bungah tole-tole
Kula lunga ninggal tole
Ing kraton abang memble
Senin, 02 November 2009
Aku Bertemu lagi Dengan Puisiku…
Sotya Pawestri
Pu…
Puyuh hatiku
Terangsang ulu cinta
Ketika aku gerakan tangan ini
I…
Isyarat ini makin jelas
Aku gores demi gores
Hingga terukir huruf hingga kata
Si…
Sibuk aku berbenah
Hingga lupa kalau aku…
Aku harus teruskan dari kata hingga kalimat
Ku…
Kukuras habis tenaga
Hingga tercipta satu bait jiwa
Dan akhirnya aku bertemu lagi dengan puisiku
PUISIKU…
Pu…
Puyuh hatiku
Terangsang ulu cinta
Ketika aku gerakan tangan ini
I…
Isyarat ini makin jelas
Aku gores demi gores
Hingga terukir huruf hingga kata
Si…
Sibuk aku berbenah
Hingga lupa kalau aku…
Aku harus teruskan dari kata hingga kalimat
Ku…
Kukuras habis tenaga
Hingga tercipta satu bait jiwa
Dan akhirnya aku bertemu lagi dengan puisiku
PUISIKU…
Senin, 19 Oktober 2009
“BIAR TUA”
Sotya Pawestri
Aku bergumam
Kemudian teriak hingga sore
Satu – satu terkuak benam
Kemudian tegak hingga tercoreng
Aku, dia, dan kau
Duduk tertawa hingga berair
Tak tahu malu dan ragu
Sampai lilin tertiup jadi abu
Aku dan dia
Saling senyum beri tanda
Saling gumam beri cinta
Aku dan kau
Tak tahu arti ini
Tak tahu perayaan ini
Sayangnya yang aku tahu
Aku ada biar tua
Aku bergumam
Kemudian teriak hingga sore
Satu – satu terkuak benam
Kemudian tegak hingga tercoreng
Aku, dia, dan kau
Duduk tertawa hingga berair
Tak tahu malu dan ragu
Sampai lilin tertiup jadi abu
Aku dan dia
Saling senyum beri tanda
Saling gumam beri cinta
Aku dan kau
Tak tahu arti ini
Tak tahu perayaan ini
Sayangnya yang aku tahu
Aku ada biar tua
Rabu, 14 Oktober 2009
KAINKU TERSOBEK
Sotya Pawestri
14-02-1979
Aku terbenam
Walau kepak sayap masih dua
Dan kasih tak berjua
14-02-1982
Aku kelaparan
Tiap tahun tunggu coklat
Tapi malah dapat iri
14-02-1990
Aku tersobek
Kain pinkku jadi kulit
Dan badanku jadi dua
14-02-2000
Aku bukan istri
Bukan lagi manusia
Kenangan tanpa suami…
14-02-1979
Aku terbenam
Walau kepak sayap masih dua
Dan kasih tak berjua
14-02-1982
Aku kelaparan
Tiap tahun tunggu coklat
Tapi malah dapat iri
14-02-1990
Aku tersobek
Kain pinkku jadi kulit
Dan badanku jadi dua
14-02-2000
Aku bukan istri
Bukan lagi manusia
Kenangan tanpa suami…
Jumat, 21 Agustus 2009
Merah Bosan
Sotya Pawestri
Langit jiwa
Tersenyum bikin bosan
Tersedak bikin tua
Tapi apakah aku harus memberi balasan !?
Mungkin tulisan ini cukup jelek
Bahkan laksamana angin ingin tebas tinta ini
Tapi aku bosan
Bosan yang bikin geram
Dan geram yang jadi merah
Satu lagi yang ingin pena ini tulis :
Seharusnya merah itu cukup gila
Satuan, puluhan, ribuan, ratusan, puluhan ribu
Bahkan ratusan ribu, jutaan, puluhan juta
Dan lagi ratusan juta
Orang lagi bosan hidup
Dan lebih bosan lagi lihat orang mati
Tapi aku !?
Aku sudah gila bosan
Dan hampir saja aku ludes…
Langit jiwa
Tersenyum bikin bosan
Tersedak bikin tua
Tapi apakah aku harus memberi balasan !?
Mungkin tulisan ini cukup jelek
Bahkan laksamana angin ingin tebas tinta ini
Tapi aku bosan
Bosan yang bikin geram
Dan geram yang jadi merah
Satu lagi yang ingin pena ini tulis :
Seharusnya merah itu cukup gila
Satuan, puluhan, ribuan, ratusan, puluhan ribu
Bahkan ratusan ribu, jutaan, puluhan juta
Dan lagi ratusan juta
Orang lagi bosan hidup
Dan lebih bosan lagi lihat orang mati
Tapi aku !?
Aku sudah gila bosan
Dan hampir saja aku ludes…
Langganan:
Postingan (Atom)
