Selasa, 25 Mei 2010

KAINKU TERSOBEK

A. Sotya Pawestri

14-02-1979
Aku terbenam
Walau kepak sayap masih dua
Dan kasih tak berjua

14-02-1982
Aku kelaparan
Tiap tahun tunggu coklat
Tapi malah dapat iri

14-02-1990
Aku tersobek
Kain pinkku jadi kulit
Dan badanku jadi dua

14-02-2000
Aku bukan istri
Bukan lagi manusia
Kenangan tanpa suami…

Selasa, 27 April 2010

Merah Bosan

A. Sotya Pawestri

Langit jiwa
Tersenyum bikin bosan
Tersedak bikin tua
Tapi apakah aku harus memberi balasan !?

Mungkin tulisan ini cukup jelek
Bahkan laksamana angin ingin tebas tinta ini
Tapi aku bosan
Bosan yang bikin geram
Dan geram yang jadi merah

Satu lagi yang ingin pena ini tulis :
Seharusnya merah itu cukup gila
Satuan, puluhan, ribuan, ratusan, puluhan ribu
Bahkan ratusan ribu, jutaan, puluhan juta
Dan lagi ratusan juta
Orang lagi bosan hidup
Dan lebih bosan lagi lihat orang mati

Tapi aku !?
Aku sudah gila bosan
Dan hampir saja aku ludes…

Selasa, 20 April 2010

Tuan Pura – Pura

A. Sotya Pawestri

Tuanku si tuan pura-pura
Menyanyi meratap muka
Tapi segan terisak tangis

Tuanku si tuan pura-pura
Ingin pergi bawa jiwa
Ingin pulang bawa rindu

Tuanku si tuan pura-pura
Ia merasa melayang di langit
Tapi sulit meraih bintang

Tuanku si tuan pura-pura
Tersedak bagai air
Dan tinggal menunggu maut

Sabtu, 27 Maret 2010

KAYAK KAYA

A. sotya pawestri

Martin pulang
Martina pergi
Martin cinta
Martina benci

Martin pura-pura
Martina serius
Martin kaya
Martina miskin

Martin makan uang
Martina muntah uang
Martin mati
Martina masih hidup

Jumat, 26 Maret 2010

MUKA RATA 

A. Sotya Pawestri

Satu…
Lima…
Angka ini yang bilang aku ratu
Mulai punya lebah sampai lima

Satu…
Tujuh…
Angka itu yang membuat aku jadi batu
Aku serahkan jiwa dan tubuh

Satu…
Delapan…
Saat ini tubuhku tidak lagi satu
Bahkan istanaku jadi papan

Satu…
Sembilan…
Ya Tuhan, aku ingin mati
Tak kuat jadi si muka rata

Dua…
Kosong…
Aku benar-benar mati

Sabtu, 20 Februari 2010

Mengapa Harus Cinta !?

A. Sotya Pawestri

Aku diam
Ketika Dewi Cinta tanya siam
Seakan air dan angin ikut bergumam
Bersama resah bahagia yang terpendam

Dewi Cinta itu bertanya lagi
Tapi aku tetap tidak mengerti
Mengapa rasanya seperti ragi ??
Atau memang hati dan uluku sudah mati

Sedetik setelah matahari terbenam
Aku sudah punya jawaban
Tapi…
Bagaimana cara mengatakannya ??

Dewi Cinta tersenyum sinis
Dan aku tersenyum manis

Aku, aku, dan aku
Mengapa harus aku ?
Aku bingung !!
Kenapa harus Dewi Cinta ?
Mengapa harus cinta ?
Kenapa Tuhan tidak kirimi aku Dewa Kekayaan saja ??

Kamis, 18 Februari 2010

TANGAN KOSONG

A. Sotya Pawestri

Langit itu putih
Ketika aku dan dia duduk bersama
Ketika semua tidur dan tak berdaya

Sekali lagi langit itu putih
Ketika surya seharusnya tersenyum
Ketika ia harus pergi

Ya, Tuhan…
Langit itu putih lagi
Ketika ia pulang
Ketika tangannya kosong

Dan langit itu putih lagi
Ketika aku harus pergi
Ketika aku bersama malaikat…

Sabtu, 13 Februari 2010

SEPI ataukah SUNYI

A. Sotya Pawestri

Jauh kupandang sejurus
Hilang arah yang lurus
Kupandang sahutan tamu
Hanya ada keramaian semu

Aku lihat kiri
Segerombolan orang yang tak kukenal berdiri

Aneh, sejuta aneh
Kenapa tak kunikmati saja ??
Atau aku mulai sepi

Terdiamku terpaku
Meratap dunia dengan tangis
Mungkin tidak hari ini tapi besok

Ataukah sunyi
Atau…
Jiwa ini tidak akan pernah tenang selamanya

Senin, 08 Februari 2010

KERTAK GIGI

A. Sotya Pawestri

Sinta mogok makan
Kira – kira sudah sepekan
Gara – gara atasan
‘Gak mau kasih tunjangan

Rudi marah
Uangnya dijarah
Katanya usaha pemerintah semakin parah
Bikin Rudi makin gerah

Raka tahan haus
Bau air dianggap hangus
Walau di depannya berdiri gadis bagus
Raka tetap tidak rakus

Sinta, Rudi, dan Raka
Menunggu nasib kayak kera
Tunggu janji belaka
Hingga tak bisa berak

Dasar nasib !!
Kapan dunia tak jadi aib ??
Sinta, Rudi, dan Raka tinggal tunggu raib

Jumat, 29 Januari 2010

JAKA MUDA & “PERAWAN TUA”

A. Sotya Pawestri

Jaka muda bawa kumis
Masuk rumah malam kamis
Jemput pesolek nan manis
Hanya sayang bau amis

Perawan tua meringis
Merasa ia masih gadis
Padahal sudah tujuh pria bengis
Melihat punggungnya punya kudis

Jaka muda tertipu
Akhirnya matikan lampu
Merasa yang dicumbu kupu-kupu
Padahal semut saja tertawa garpu

Perawan tua menipu
Tak sanggup melawan nafsu rapuh
Tak ingat ayah bunda di Cepu
Tak mau meluputkan rasa tipu

Jaka muda tetap cinta
Dia hanya lihat dari mata
Sampai jiwanya patah
Jaka muda masih cinta…

Rabu, 20 Januari 2010

PERAWAN MENGASUH TANAH

A. Sotya Pawestri

Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang

Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri

Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah

Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya

Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh

Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti

Senin, 18 Januari 2010

HAMPIR TERAKHIR

A. Sotya Pawestri

Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan

Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan

Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin

Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir

Sabtu, 26 Desember 2009

AIR YANG MANA !?

A. Sotya Pawestri

Lupa aku jika haus
Minuman mana yang dapat menyegarkan
Bahkan satu, dua, tiga janji
Sudah larut lebur di minumku

Kanda pergi dinda pergi
Mengalir jatuh tak mungkin ke atas
Batu besar jadi kecil pun
Tak mungkin pindah seperti daun

Airku keruh
Hampir tak punya sayap
Jatuh aku tak apa
Mati aku tak sanggup

Nafas tinggal seair
Tapi aku berjejak
Seharusnya kakiku ada sepuluh
Biar tegak aku berderap
Tapi Dewi berkata lain
Tega melihat dengan tiga mata
Satu mata pun tak berkedip
Menatapku semakin menggeliat
Panas dan dingin seling berganti

Selasa, 24 November 2009

“SATU TITIK GEMAS”

Sotya Pawestri

Kalo bebek pergi
Bebek pergi bawa goyang
Kalo rusa pergi
Rusa pergi bawa air di perut

Kalo surya pergi
Surya pergi bawa terang
Kalo satelit pergi
Satelit pergi bawa buram

Aneh,
Aku kok malah pergi bawa titik
Cuma satu titik
Aku genggam malah hilang
Aku pamer takut jatuh

Aduh, mama !
Sampai kapan titik ini tersimpan
Dalam genggam
Atau dalam susu
Aku makin gemas
Harus kutaruh mana
Atau kuremas dan kuperlihatkan
Agar bebek lewat tahu
Agar rusa lari terpana
Hingga satu titik gemas ini bersinar

Sabtu, 14 November 2009

SAKIT

Angela Sotya Pawestri

Kertas hitam ini jadi merah
Ketika aku dan dia terguncang
Dan tak sanggup melihat lagi

Kini…
Kertas merah itu jadi putih
Ketika aku dan kamu sakit
Sakit jiwa berdarah yang suci

Tapi…,
Kertas putih itu jadi abu-abu
Ketika dia dan kamu takut
Takut diserang hati merah

Setelah itu,
Kertas abu-abu itu jadi hitam kembali
Ketika aku, dia, dan kamu
Habis di neraka !!!

Minggu, 08 November 2009

KRATON ABANG MEMBLE

Sotya Pawestri

Aku hitam
Tunggu kelam
Walau sudah malam
Aku belum bertemu putra malam

Kula manungsa
Rada rekasa
Manungsa liyane meksa
Supaya kula tresna basa

Tapi sekali lagi aku hitam
Bagai tembok gambarkan ketam
Hingga tercoreng sampai pitam
Aku makin geram

Raden Wengi nalika bale
Kula bungah tole-tole
Kula lunga ninggal tole
Ing kraton abang memble

Senin, 02 November 2009

Aku Bertemu lagi Dengan Puisiku…

Sotya Pawestri

Pu…
Puyuh hatiku
Terangsang ulu cinta
Ketika aku gerakan tangan ini

I…
Isyarat ini makin jelas
Aku gores demi gores
Hingga terukir huruf hingga kata

Si…
Sibuk aku berbenah
Hingga lupa kalau aku…
Aku harus teruskan dari kata hingga kalimat

Ku…
Kukuras habis tenaga
Hingga tercipta satu bait jiwa
Dan akhirnya aku bertemu lagi dengan puisiku

PUISIKU…

Senin, 19 Oktober 2009

“BIAR TUA”

Sotya Pawestri

Aku bergumam
Kemudian teriak hingga sore
Satu – satu terkuak benam
Kemudian tegak hingga tercoreng

Aku, dia, dan kau
Duduk tertawa hingga berair
Tak tahu malu dan ragu
Sampai lilin tertiup jadi abu

Aku dan dia
Saling senyum beri tanda
Saling gumam beri cinta

Aku dan kau
Tak tahu arti ini
Tak tahu perayaan ini
Sayangnya yang aku tahu
Aku ada biar tua

Rabu, 14 Oktober 2009

KAINKU TERSOBEK

Sotya Pawestri

14-02-1979
Aku terbenam
Walau kepak sayap masih dua
Dan kasih tak berjua

14-02-1982
Aku kelaparan
Tiap tahun tunggu coklat
Tapi malah dapat iri

14-02-1990
Aku tersobek
Kain pinkku jadi kulit
Dan badanku jadi dua

14-02-2000
Aku bukan istri
Bukan lagi manusia
Kenangan tanpa suami…

Jumat, 21 Agustus 2009

Merah Bosan

Sotya Pawestri

Langit jiwa
Tersenyum bikin bosan
Tersedak bikin tua
Tapi apakah aku harus memberi balasan !?

Mungkin tulisan ini cukup jelek
Bahkan laksamana angin ingin tebas tinta ini
Tapi aku bosan
Bosan yang bikin geram
Dan geram yang jadi merah

Satu lagi yang ingin pena ini tulis :
Seharusnya merah itu cukup gila
Satuan, puluhan, ribuan, ratusan, puluhan ribu
Bahkan ratusan ribu, jutaan, puluhan juta
Dan lagi ratusan juta
Orang lagi bosan hidup
Dan lebih bosan lagi lihat orang mati

Tapi aku !?
Aku sudah gila bosan
Dan hampir saja aku ludes…