Rabu, 20 Januari 2010

PERAWAN MENGASUH TANAH

A. Sotya Pawestri

Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang

Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri

Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah

Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya

Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh

Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar