Rabu, 20 Januari 2010

PERAWAN MENGASUH TANAH

A. Sotya Pawestri

Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang

Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri

Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah

Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya

Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh

Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti

Senin, 18 Januari 2010

HAMPIR TERAKHIR

A. Sotya Pawestri

Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan

Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan

Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin

Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir

Sabtu, 26 Desember 2009

AIR YANG MANA !?

A. Sotya Pawestri

Lupa aku jika haus
Minuman mana yang dapat menyegarkan
Bahkan satu, dua, tiga janji
Sudah larut lebur di minumku

Kanda pergi dinda pergi
Mengalir jatuh tak mungkin ke atas
Batu besar jadi kecil pun
Tak mungkin pindah seperti daun

Airku keruh
Hampir tak punya sayap
Jatuh aku tak apa
Mati aku tak sanggup

Nafas tinggal seair
Tapi aku berjejak
Seharusnya kakiku ada sepuluh
Biar tegak aku berderap
Tapi Dewi berkata lain
Tega melihat dengan tiga mata
Satu mata pun tak berkedip
Menatapku semakin menggeliat
Panas dan dingin seling berganti

Selasa, 24 November 2009

“SATU TITIK GEMAS”

Sotya Pawestri

Kalo bebek pergi
Bebek pergi bawa goyang
Kalo rusa pergi
Rusa pergi bawa air di perut

Kalo surya pergi
Surya pergi bawa terang
Kalo satelit pergi
Satelit pergi bawa buram

Aneh,
Aku kok malah pergi bawa titik
Cuma satu titik
Aku genggam malah hilang
Aku pamer takut jatuh

Aduh, mama !
Sampai kapan titik ini tersimpan
Dalam genggam
Atau dalam susu
Aku makin gemas
Harus kutaruh mana
Atau kuremas dan kuperlihatkan
Agar bebek lewat tahu
Agar rusa lari terpana
Hingga satu titik gemas ini bersinar

Sabtu, 14 November 2009

SAKIT

Angela Sotya Pawestri

Kertas hitam ini jadi merah
Ketika aku dan dia terguncang
Dan tak sanggup melihat lagi

Kini…
Kertas merah itu jadi putih
Ketika aku dan kamu sakit
Sakit jiwa berdarah yang suci

Tapi…,
Kertas putih itu jadi abu-abu
Ketika dia dan kamu takut
Takut diserang hati merah

Setelah itu,
Kertas abu-abu itu jadi hitam kembali
Ketika aku, dia, dan kamu
Habis di neraka !!!

Minggu, 08 November 2009

KRATON ABANG MEMBLE

Sotya Pawestri

Aku hitam
Tunggu kelam
Walau sudah malam
Aku belum bertemu putra malam

Kula manungsa
Rada rekasa
Manungsa liyane meksa
Supaya kula tresna basa

Tapi sekali lagi aku hitam
Bagai tembok gambarkan ketam
Hingga tercoreng sampai pitam
Aku makin geram

Raden Wengi nalika bale
Kula bungah tole-tole
Kula lunga ninggal tole
Ing kraton abang memble

Senin, 02 November 2009

Aku Bertemu lagi Dengan Puisiku…

Sotya Pawestri

Pu…
Puyuh hatiku
Terangsang ulu cinta
Ketika aku gerakan tangan ini

I…
Isyarat ini makin jelas
Aku gores demi gores
Hingga terukir huruf hingga kata

Si…
Sibuk aku berbenah
Hingga lupa kalau aku…
Aku harus teruskan dari kata hingga kalimat

Ku…
Kukuras habis tenaga
Hingga tercipta satu bait jiwa
Dan akhirnya aku bertemu lagi dengan puisiku

PUISIKU…