A. Sotya Pawestri
Jaka muda bawa kumis
Masuk rumah malam kamis
Jemput pesolek nan manis
Hanya sayang bau amis
Perawan tua meringis
Merasa ia masih gadis
Padahal sudah tujuh pria bengis
Melihat punggungnya punya kudis
Jaka muda tertipu
Akhirnya matikan lampu
Merasa yang dicumbu kupu-kupu
Padahal semut saja tertawa garpu
Perawan tua menipu
Tak sanggup melawan nafsu rapuh
Tak ingat ayah bunda di Cepu
Tak mau meluputkan rasa tipu
Jaka muda tetap cinta
Dia hanya lihat dari mata
Sampai jiwanya patah
Jaka muda masih cinta…
Jumat, 29 Januari 2010
Rabu, 20 Januari 2010
PERAWAN MENGASUH TANAH
A. Sotya Pawestri
Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang
Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri
Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah
Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya
Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh
Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti
Sepertinya aku mulai sinting
Ribut bukannya dengan diri sendiri
Tapi malah dengan suami orang
Hujan salah berikan hasil
Tanah juga salah berikan hasil
Harusnya aku ke kanan
Tapi bebal tetap belok kiri
Aku paksa tanganku menyulam semak di tengah api
Gerah hati mengulum
Bukan tangan yang memerah
Perawan menutup aurat dengan senyum
Salah ambil jalan mengasuh tanah
Memaksa tanah menjadi turut padanya
Perawan diam berpikir
Seharian mengasuh tanah
Tiada tunas yang tumbuh
Apalagi jeroan hati bersimpuh
Ia akhirnya menunggu
Jejaka mana yang berhenti
Senin, 18 Januari 2010
HAMPIR TERAKHIR
A. Sotya Pawestri
Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan
Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan
Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin
Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir
Panci di depanku masih bergumam
Terus sibuk dengan airnya
Riak itu akhirnya keluar
Tanda didih harus dipadamkan
Aku jadi gila
Makin lama makin menjadi
Seperti panci didepanku
Harusnya aku berdiri sambil tertawa
Sayang didih itu tak mampu kupadamkan
Silvi sahabatku
Menggempar bersama bulan
Merasa aku hanya lelah
Merasa semuanya jadi lilin
Aku hanya terdiam
Tak berani menyahut
Tipu daya dengan senyum
Tak mungkin ada yang tahu
Sabar, sabar
Namanya juga hidup
Harus tabah
Tunggu lagi didih itu
Pasti akan beda
Tinggal tarik napas
Semuanya hampir terakhir
Langganan:
Postingan (Atom)
